Mari kita bahas yang Anjay Anjay
Baiklah, kali ini kita akan membahas yang anjay anjay. Apa itu? ya itu Anjay, haha. belakangan ini ramai orang orang membahas kata slag anjay ini, kata ini dituduh sebagai kata yang merusak moral, lah kok bisa? anda heran? sama, saya juga.
Kehebohan ini dimulai dari postingan pres rilisnya Komnas Perlindugnan anak dua hari lalu (29/8) dimana komnas PA menghimbau masyarakat untung berhenti menggunakan istilah anjay. Menurut komnas PA di press rilisnya, penggunaan kata harus dilihat dari perspektifnya, begitu pula dengan si "anjay" (selanjutnya saya sebut A-Word) jika A-word ini konteksnya digunakan dalam komunikasi dengan orang yang dekat dan tidak menimbulkan ketersinggungan dan merendahkan martabat manusia, ya aman-aman saja. Namun jika A-word ini digunakan dalam komunikasi dengan orang yang dimana akan menimbulkan ketersinggungan dan menghadirkan kesan merendahkan martabat, maka pengguna A-word ini bisa dipidana karena telah melakukan bullying secara verbal.
Jadi, sekarang penggunaan A-word ini sepertinya dibatasi untuk lingkungan sosial tertentu dan dilarang digunakan untuk komunikasi publik. kasian ya kreator gaming di youtube ga bisa bilang "Anjay Mabar " lagi. haha.
Lagian siapa sih yang akan tersinggung dengan A-word? Oo tentu saja mamang Lutfi Agizal. Beliaulah yang mengadukan slag A-word beserta temen temennya (anjrit, anjir, &BGST) ke komnas PA. berdasarkan keterangannya pada sebuah acara bincang-bincang, beliau beranggapan bahwa slag ini dapat merusak moral bangsa. Beliau berujar "anak kecil dilingkungan saya sedang belajar sepeda, pas dia jatuh temen tememnya malah bilang "haha, kasian luh anjay" lah dia tau darimana kata anjay, kalo dibiarkan nanti akan terbawa sampai dewasa...".
Hmm, Opini yang bagus. Tapi, sebelum saya se-tua ini, saya juga pernah jadi anak anak dong, dan kata tetangga, saya kecil sering nge badword, Saya juga inget waktu kecil sampai kira-kira kelas 3 SMP saya sering menyisipkan asal kata A-word (di sunda dipanggil Anying) dan berbagai bad word lain saat berdialog dengan teman teman sepermainan, dan apakah sampai sekarang saya sering menyisipkan Anying dalam dialog bersama teman teman saya?, Ooo tentu tidak. Manusia itu berkembang, seiring waktu saja bisa memilih kata mana yang bisa digunakan ke yang lebih tua, ke yang lebih muda, dan ke sesama. Saya besar di lingkungan Sunda yang bahasanya bertingkat 3 seperti itu (bahkan ada tingkat 4 dimana bahasanya khusus digunakan kepada binatang). Kita gak tau juga masa depan seseorang itu bakal seperti apa, jadi jika mamang Lutfi Agizal ini sering menemukan anak tetangga bilang A-word, ya belum tentu juga di umur 20 tahun nanti, anak itu akan sering berkata A-word.
Selain karena mamang Lutfi ini miris dengan anak tetangganya yang selalu bilang A-word, beliau juga berpendapat di channel youtube nya bahwa A-word ini dapat merusak moral bangsa dan membentuk generasi negatif, hmm, judul click bait yang mantap. Bahkan beliau ini membuat 3 seri video 30 menitan cuma untuk membahas a-word. Sepengathuan saya, moral kan terikat dengan norma yang ada di komunitas masyarakat,
Apakah sering nge-bad word sama dengan tidak bermoral? hmm, tidak juga. di masyarakat seseorang dikatakan baik itu ya indikatornya macem-macem lah, bukan cuma ucapan doang, ada faktor penentu yang lain. Bahasanya baik dan santun, tapi sering mencuri di warung apakah itu bermoral bagi mamang lutfi?. Sepengetahuan saya dan sepengalaman saya juga, anak anak itu memang masih dalam tahap imitasi, dia akan meniru apapun yang ada di lingkungan. Contohnya ya bahasa tadi, dia akan meniru semua yang dia dengar, mau itu bahasa yang santun, atau yang badword. Orang tua di sunda juga mungkin akan kaget pas berangkat main anaknya menyebut gogog sambil menunjuk seekor anjing, pas pulang menyebut anjing sambil menunjuk teman. Disini peran didikan orang tua itu ada, anak tadi paling dinasihatin "jangan gitu, itu bahasa yang tidak baik" atau jika bapaknya anak itu adalah Iman Supriadi, yang akan dia katakan adalah "Mulut Anda Kotor, BGST kau". Dan seiring perkembangan pola pikir, dia akan berpikir untuk memilah bahasa yang mana yang harus digunakan dalam situasi seperti apa, dan dengan siapa dia berdialog.
Menurut pepatah, lain ladang lain belalang. Norma antar kelompok masyarakat itu tidak seragam, ada perbuatan yang biasa saja di suatu kolompok masyarakat, dan malah jadi jelek jika dilakukan di kelompok masyarakat yang berbeda. Begitu pula dengan ucapan, menurut ahli bahasa yang hadir dalam acara bincang-bincang ini, orang jawa timur biasa aja bilang jancuk, padahal jancuk itu bahasa kasar walaupun dengan catatan digunakan ke orang yang sudah dekat, contoh lain dari ini adalah kontennya Garit Dewana, dia waktu live streaming PUBG sering bilang temen mabarnya cuk, jembut, asu, dan lain lainnya, apakah mamang lutfi melihat mas Garit Dewana tidak bermoral? kata kata itu lebih punya arti yang jelas lho daripada A-word. Contoh lain, bocil-bocil di sektaran rumah, sama lah umurnya dengan tetangganya mamang Lutfi ini, cuma udah bisa main sepeda. Mereka suka bilang Anying, Bagong, dan temen tememnnya saat mereka bermain bersama, apakah anak anak ini juga tidak bermoral bagi mamang lutfi?.
Bagi saya, yang ucapkan mas Garit ke temen mabarnya ya biasa aja, toh yang dia katain temen sendiri, dan temennya ngakak ngakak aja, gak tersinggung sama sekali dan tidak merasa martabatnya direndahkan. Dan yang bocil bocil itu sisipkan dalam dialog dengan teman temanya ya menurut saya biasa biasa saja, temennya juga gak merasa direndahkan kan. Lagian pikiran anak kecil kan simple, yang risih paling orang tuannya si anak. Itu mungkin yang dimaksud dalam press rilisnya Komnas PA, menggukanan a-word dalam konteks komunikasi dengan orang-orang dekat dan tidak menimbulkan ketersinggungan dan merendahkan martabat manusia.
kembali ke press rilis Komnas PA, saya baru tau lho a-word ini bisa digunakan untuk membully orang lain. Sampai saat ini di internet maupun di luar internet, saya tidak menemukan orang yang ter bully dengan kata anjay (kecuali mungkin mamang lutfi ini). kata gendut, jelek, dan pendek misalnya malah lebih sering dijadikan cyber bullying, gak percaya, cek saja komentar di youtube nya kekeyi misalnya. Dan kata anjing jika digunakan ke objek manusia yang relasi sosialnya jauh malah lebih merendahkan manusia daripada slag anjay, sering saya lihat orang-orang mengkomentari postingan orang lain dengan a-word, dan pemilik posingan biasa biasa saja, beda jika komentarnya anjing, pemilik postingan akan ngamuk karena dikira ngata-ngatain.
Sifat bahasa itu produktif, akan ada bahasa bahas baru yang tercipta, baik itu dari kata serapan, istilah baru, atau bahkan slag. Dari dulu slag dan badword telah ada, dan sering di gunakan misalnya dalam meme. Entah mengapa baru sekarang ada yang meributkan ini.
Jadi itntinya, mamang Lutfi ini melaporkan a-word ke komans PA karena a-word ini hanya bisa digunakan untuk menunjuk binatang berkaki empat yang suka mengonggong dan tidak bisa untuk menggantikan kata yang mengekspresikan ke kaguman atau digunakan sebagai sisipan dalam dialog antara teman sebaya. Di sisi lain, saya dan sebagian orang di internet berpendapat bahwa a-word ini cuma kata slag doang, tidak ada yang pernah tersinggung dengan a-word ini, dan digunakan bukan untuk merendahkan martabat manusia atau untuk melalukan cyber bully.


Komentar
Posting Komentar