banjir dan maksiat apa hubungannya sih?

pergantian tahun kali ini mungkin berbeda dari sebelum-sebelumnya, dimana ketika masyarakat di kota lain masih menikmati hari libur 1 januari, masyarakat yang tinggal di jakarta dan sekitarnya malah harus menyelamatkan diri dari terjangan banjir.
menyimak media sosial dan situs pemberitaan, banjir jakarta menjadi perbincangan utama. namun, ada salah satu cuitan menarik dari salah satu pengguna twitter
tweet @Pardedereza di Twitter, sumber: Screenshoot.


btw, ini yang melatarbelakangi saya untuk memulai sedikit riset guna menjawab pertanyaan " apa sih hubungan kausalitas dari banjir di jakarta dan sekitarnya dengan maksiat manusia di malam tahun baru?"

azab dan maksat itu apa?

sebagai disclaimer  diawal tulisan ini, sudut pandang yang saya gunakan dalam tulisan ini bukan melalui sudut pandang ajaran agama tertentu, tetapi saya menggunakan sudut pandang yang sederhana, saya hanya mencari hubungan kausalitas atau sebab akibat antara maksiat malam tahun baru dengan azab banjir. menurut KBBI daring, Maksiat adalah perbuatan yang melanggar perintah Allah, bisa juga berarti perbuatan Dosa, sedangkan azab, masih menurut KBBI daring adalah siksa tuhan yang diganjarkan kepada manusia yang melanggar ajaran agama.

jika didasarkan pada pengertian KBBI, jelas maksiat dan azab itu adalah hubungan kausalitas, karena maksiat adalah perbuatan dosa, dan pendosa akan mendapatkan azab. Namun, apakah maksiat tahun baru mengakibatkan azab berupa banjir? nanti dulu, sebelum menjawab, mari kita telaah sedikit mengapa banjir bisa terjadi di Jakarta dan sekitarnya.

penyebab banjir di Jakarta itu apa sih?

sebelumnya patut diketahui bahwa banjir di jakarta bukanlah bencana baru, Sutopo Purwo Nugroho (2008) dalam tulisannya (PDF) menyatakan bahwa banjir di Jakarta telah terjadi pada tahun 1621, 1654, 1918, 1942, 1976, 1996, 2002, dan 2007. jadi, sebenarnya jakarta sudah sering dilanda banjir besar. Penyebab banjir besar ini juga bermacam-macam, masih menurut Sutopo, sebelum tahun 1970-an, banjir di jakarta lebih disebabkan oleh faktor alam, curah hujan yang turun cukup tinggi, menyebabkan sungai-sungai di jakarta tidak dapat menampung air dengan jumlah tinggi sehingga meluap dan menyebabkan banjir.

tahun ini, yang menyebabkan intensitas hujan tinggi adalah perubahan iklim. Menurut BMKG sebagaimana dikutip Vice.id, hujan yang mengguyur Jakarta pada 31 Desember 2019 hingga keesokan harinya tercatat sebesar 377MM/hari dan hujan itulah yang menyebabkan banjir. Juru bicara BMKG, Fachri Radjab seperti dikutip vice.id memaparkan bahwa kenaikan suhu di samudera Hindia menyebabkan tingginya uap ari yang pada akhirnya mempengaruhi formasi awan tebal di Jawa.

selain itu, salah satu ulah manusia yang menyebabkan banjir adalah perubahan penggunaan lahan di sekitar daerah aliran sungai. Hidayat Pawitan (2002) dalam makalahnya (PDF) memaparkan bahwa terjadi penyusutan hutan, penyusutan persawahan da tegalan, juga perluasan pemukiman penduduk di daerah aliran sungai yang dilalui oleh Ciliwung, dan perubahan pola penggunaan lahan ini berdampak pada berkurangnya kapasitas resapan air. dan dapat disimpulkan jika setiap hujan turun, air hujan tidak ditahan pepohonan dan diserap tanah, namun langsung mengalir ke sungai.

jadi, apakah banjir di Jakarta ini karena azab akibat maksiat malam tahun baru?

hehe, sorry ya Pardede. Banjir di jakarta bukan disebabkan oleh azab maksiat tahun baru, tapi lebih dari itu.

Banjir di jakarta dan sekitarnya lebih disebabkan dosa manusia terhadap lingkungan hidup tempat dia tinggal. Kita tau bagaimana daerah aliran sungai di hulu dan tengah Ciliwung berubah, hutan dan daerah resapan airnya menyempit, namun pemukiman penduduk yang pembangunannya mengabaikan dampak lingkungan malah semakin luas. Dan di Jakarta yang merupakan daerah hilir ciliwung, jika menurut Sutopo dalam pendahuluan tulisannya adalah daerah dataran rendah dan jika musim hujan telah tiba pasti terjadi banjir disana. namun, mengapa pembangunan perkotaan seperti mengabaikan analisis dampak lingkungan, bahkan menteri pembangunan dan gubernur setempat pada saling lempar tanggung jawab terkait banjir kali ini.

Kita bisa lihat cara negara lain mengatasi banjir, lihatlah Belanda, bukan sungai yang mereka bendung, tapi lautan hingga daerah daratannya menjadi luas, atau negara-negara lain yang telah menerapkan sistem pengendalian air yang maju.

saat bencana seperti ini bukan saat yang tepat saling menyalahkan "dosa" siapa atau siapa yang berbuat maksiat, karena sudah jelas ini salah kita semua yang tak lagi ramah dengan alam. dan respon yang dibebrikan alam akibat ketidakramahan manusia adalah perubahan iklim yang menyebabkan hujan deras yang mampu menyebabkan banjir, atau bahkan kekeringan yang menyebabkan kebakaran hutan.

disaat seperti ini sudah waktunya kita bersatu bersama guna menolong saudara kita yang tengah dilanda musibah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini