Kok ada yah siswa yang mengeluh tidak mengerti belajar online, sementara siswa yang lainnya berlangganan bimbel online

    Selain menggunakan masker, belajar melalui jaringan internet rupanya juga menjadi kebiasaan baru dikala pademi ini. Para siswa mulai belajar sejak bulan Maret, dan tujuan belajar dalam jaringan ini tentu saja untuk mencegah sekolah menjadi cluster baru penyebaran virus.

    Membahas tentang belajar dalam jaringan, tentu ini menarik. Pasalnya kebijakan ini diterapkan dadakan, seperti goreng tahu bulat. Saya yang sekarang bukan siswa dan tengah menempuh pendidikan sebagai mahasiswa merasakan ini dan pernah mengeluh tentang ini di postingan sebelumnya. 

    Pandemi yang belum usai tentu membuat kegiatan ini berlangsung lama juga. Saya mengira Perkuliahan jarak jauh hanya akan berlangsung satu bulan, rupanya malah berlangsung 1 semester. Kemungkinan semester depan masih kuliah online.

    Bericara tentang keluhan, bukan cuma saya yang mengeluh, adik adik dari kalangan siswa juga ikut mengeluh, namun ada yang menarik dari keluhan mereka.


    Saya mendapati ini dari beranda Facebook saya beberapa hari yang lalu. Nama dan foto profil sengaja saya hilangkan karena pesan ini rupanya copy paste dari pengguna lain (klik saja hastagnya, pasti banyak yang meng-copy ini)

    Mari kita bahas satu persatu dari highlighter ungu. Kalimat dalam highlighter ungu itu sangat menggelitik menurut saya. Apakah dia yakin dia mewakili seluruh murid se indonesia? kapan dia dipilih jadi perwakilan murid se indonesia? apakah dia mengajukan diri sendiri? jika iya, apakah murid yang lain juga setuju diwakili oleh pengetik pesan ini?

    Kemudian highlighter kuning. Ini menjadi sebuah pertanyaan juga, kenapa sampai tidak mengerti dengan sistem belajar online? jika siswa tidak mengerti dengan belajar online, kenapa ada aplikasi bimbel online yang rela buat "membajak" seluruh TV nasional buat ngiklan? di jam utama lagi. sudah harganya lumayan buat langganan satu semester, banyak yang menggunakan pula. Kamu bisa lihat sudah berapa banyak pengguna aplikasi ini di playstore.

    Apa yang membuat siswa tidak mengerti dengan belajar online ini sebenarnya adalah bahan evaluasi bagi setiap element yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Dari sisi siswa, apakah dia tidak mengerti dengan materi, tidak bisa bertanya apa seperti apa? dari sisi pengajar, apakah materi terlalu jauh, atau bagaimana? dari sisi sistem yang digunakan, apakah siswa dan pengajar bisa menjalankan aplikasi untuk kelas dalam jaringan dengan baik?.
    
    Di institusi tempat saya belajar, ada tim penjamin mutu yang mengevaluasi kegiatan kuliah jarak jauh dan salah satu cara yang tim ini gunakan adalah dengan memberikan kuisioner untuk melihat sejauh mana kegiatan kuliah online ini berlajan baik. Saya tidak tau apakah di institusi pendidikan tingkat dasar, menengah, dan atas mempunyai tim yang fungsinya seperti tim penjamin mutu.

    Kemudian kalmat dalam highlighter oren menimbulkan pertanyaan sama dengan kalimat dalam highlighter ungu. Lalu highlighter biru ini yang menarik. Dia punya data dari mana sampai bisa mengatakan kalimat seperti itu. apakah dia telah melakukan sampling kemudian melakukan uji perbandingan dengan metode statistika sebelum mengeluarkan satatment ini? jika si pengetik pesan ini berbicara atas nama diri sendiri dan mengeluarkan pernyataan seperti ini ya biasa saja. Karena dia menyatakan dirinya semakin bodoh jika belajar online terus terusan. masalahnya dia berkata atas nama seluruh siswa lho ini. Dan dia sendiri tidak tau apakah siswa yang lain mengalami masalah yang sama.

    Dan yang paling lucu adalah kalimat dalam highlighter hijau ini. masa iya sih mahasiswa sekolah?. Saya saja yang sudah 5 bulan tidak ke kampus santuy santuy saja nih. hehe.

    terlepas dari pesan dengan highlighter, kalimat setelah highlighter biru dan sebelum highlighter hijau ini banyak yang mengalami juga. terutama di daereh 3T (terjauh, terdepan, tertinggal). di salah satu daerah seperti yang pernah di liput wartawan TV, bahkan bukan belajar online yang terjadi, malah gurunya yang datang ke rumah siswa satu persatu untuk menyelenggarakan belajar dirumah. masalah eknomi dan kesenjangan sosial memang sudah berlangsung lama, dan pandemi membuat masalah ini mengemuka, bahkan resesi ekonomi akibat PSBB memperburuk masalah ini.

    Mari kita buka data, berdasarkan data statista yang dihimpun katadata, presentase pengguna internet di indoensia tahun 2020 diproyeksikan sebanyak 119,4 juta. banyak yah, namun itu hanya 11% dari jumlah penduduk. sementara pengguna smartphone, tahun 2020 diproyeksikan hanya 30% dari jumlah penduduk. jadi, memang akan sulit melaksanakan pembelajaran jarak jauh melalui jaringan di seluruh negeri.
data pengguna internet di indoensia. sumber : https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/09/berapa-pengguna-internet-di-indonesia#




    Saya pernah mengikuti webbinar tentang bagaimana jalannya pendidikan tinggi di tengah pandemi, dan pembicara di webbinar itu mengatakan "tidak ada yang siap dengan sistem pembelajaran jarak jauh, salah satu universitas ternama di indonesia saja mengatakan akan siap dengan sistem perkuliahan jarak jauh paling tidak awal tahun 2021". jadi sedikit sedikit mulailah beradaptasi dengan kebiasaan baru ini, karena seperti yang dikemukakan teori evolusi, mahluk hidup yang beradaptasi dengan lingkungan baru akan tetap bertahan hidup, sementara yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru akan punah.

    Di postinga sebelumnya saya memang mengeluhkan kuliah online, namun bukan ke arah tidak ngerti materi, tapi ke arah cara komunikasi dan cara belajar. Saya juga mengatakan hal yang sama ke kuisioner yang diberikan tim penjamin mutu, dan sekarang saya bisa belajar dengan lebih baik.

    Untuk siswa, saya sarankan untuk memaksimalkan teknologi guna mendukung pembelajaran online. jika kalian tidak mengerti dengan materi, kalian bisa bertanya kepada pengajarmu, atau mencari reverensi valid lain dari internet. walapun kenyataanya, belajar online atau offline ketika pengajar berkata "apa ada pertanyaan" malah pada diem biar kelasnya cepat selesai.

    Dan untuk lembaga pendidikan, mulailah mengevaluasi sistem belajar jarak jauh yang sedang dijalankan. saya bukan orang pendidikan, tapi di teknik industri saya belajar salah satu cara untuk memperbaiki sebuah sistem adalah dengan memberikan assesment dan feedback guna melakukan evaluasi.
    


Komentar

Postingan populer dari blog ini

banjir dan maksiat apa hubungannya sih?