kuliah online yang sebenarnya gak cool cool amat
Semenjak ada wabah covid-19, semuanya berubah. Guna menanggulangi penyakit
ini, gerakan manusia mulai dibatasi, termasuk saya yang juga merasakan dampak
dari kebijakan pemerintah yang memerintahkan untuk belajar dirumah.
|
|
Kuliah Online, Source : tertera |
Saya kuliah di bandung, namun saya bukan orang bandung. Dan ketika pemerintah
menyuruh pihak kampus untuk memindahkan kegiatan belajar ke "internet" saya
senang sekali, karena dengan ini saya gak perlu lagi tinggal di kosan atau
datang ke kampus untuk ikut kelas. Saya sendiri "eksodus" dari Bandung ketika
wabah ini belum separah sekarang dan sebelum pemerintah melarang mudik. Dan
ya, sekarang saya mengikuti perkuliahan dari kamar di rumah sambil rebahan.
Dibalik itu semua, kuliah online sebenarnya gak keren-keren amat. Ada beberapa
masalah yang saya alami ketika menjalani kuliah online ini. Terlebih kegiatan
ini adalah kegiatan yang baru dan butuh beberapa waktu sebelum akhirnya
bisa menyesuaikan diri.
Insprastruktur Digital yang "Ampas"
Karena daerah tempat tinggal saya adalah sisi paling selatan pulau Jawa yang
berhadapan langsung dengan samudra hindia, masalah sinyal jelek pasti saya
alami. Contohnya saja ketika saya harus menghadiri kelas online di zoom, untuk
bisa lancar di zoom, setidaknya dibutuhkan koneksi internet yang stabil.
Koneksi stabil ini sulit saya dapatkan. Saya menggunakan layanan dari operator
merah dan operator kuning, namun tetap saja untuk bisa terus berada di meeting
zoom tanpa keluar ditengah jalan akibat koneksi yang tak stabil ini sulit.
Jangankan untuk kuliah online, nonton youtube atau streaming musik di spotify
aja terkadang lang, bahkan loadingnya lama walaupun saya menggunakan modem
yang telah mendukung jaringan 4G. Bahkan didaerah saya sulit mendapatkan
sinyal 4G dari operator merah menggunakan modem 4G yang di covernya ada
tulisan nama operator merah ini.
Media Komunikasi
Perubahan yang paling terasa saat kuliah online seperti ini adalah perubahan
media dalam komunikasi antara dosen dengan mahasiswa, ataupun mahasiswa dengan
mahasiswa. Yang semula langsung tatap muka di kelas, kini dilakukan melalui
grup Whatsapp, atau kadang menggunakan zoom agar bisa tatap muka beneran lewat
video konferensi. Namun tetap saja komunikasi secara tak langsung seperti ini
bukan tanpa hambatan. Terutama untuk mata kuliah hitung hitungan semacam
Penelitian Operasioal, Statistika, atau PPIC. mata kuliah itung itungan ini
lebih mudah dimengerti jika dijelaskan oleh dosen secara langsung dikelas
sabil curat coret papan tulis. Jika saya bingung saya bisa langsung
mengacungkan tangan dan bertanya. Walaupun saya bisa juga bertanya lewat grup
wa ke dosen, tetep saja penjelasan dosen lewat media ini kurang.
Ketika baru baca surat edaran kampus tentang kuliah online, saya senang sekali
karena dengan kuliah online saya bisa pulang ke rumah, dan mengurangi biaya
hidup sehari hari saya di Bandung, walaupun bayar kos sama SPP semester masih
jalan. terlebih tanggal masuk kembali ke kampus adalah bulan juni, jadi bulan
puasa ini saya berada dirumah penuh dari tanggal satu sampai setelah
lebarannya. Namun dua kesulitan diatas dan temen temennya yang lain terkadang
membuat saya berfikir ulang. Lebih baik saya menyelesaikan segala urusan yang
berkaitan dengan kuliah dan menyimpannya di kosan, daripada saya pulang dengan
membawa masalah kampus ke rumah. semoga wabah ini cepat berlalu dengan saya
nurut untuk belajar dari rumah.

Komentar
Posting Komentar