Foto Cantik Kok dibikin Burem

Aku heran dengan keviralan internet kali ini. terdapat sebuah kasus dimana sebuah organisasi kampus memperkenalkan pengurus barunya ke publik melalui akun instagram, namun terdapat perlakuan berbeda terhadap foto laki-dan perempuan, dimana foto pengurus laki laki masih terlihat jelas sedangkan foto pengurus perempuan malah di turunkan opacitynya dan bahkan ada yang diganti dengan foto kartun "ukhty style".

Tak hanya medos yang ribut, kasus ini bahkan diangkat media. Dan tentu saja tirto dan vice melihat kasus ini sebagai pelanggaran terhadap kesetaraan gender. Bukanya ada perempuan dalam barisan pengurus organisasi itu adalah bentuk kesetaraan gender, lalu haruskah kesetaraan gender juga ditunjukan dalam hal "upload foto di instagram" juga?, dan mengapa juga para pengurus organisasi ini melakukan menyamaran terhadap foto perempuan saja?.


Kesetaraan gender itu apa yah?

Menurut deklarasi universal HAM yang dimasukan dalam sebuah artikel di wikipedia, kesetaraan gender adalah pandangan dimana semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender yang bersifat kodrati. Dan kesetaraan gender adalah salah satu tujuan dari deklarasi universal Hak Asasi Manusia.

Jika mengacu kepada pengertian ini, dalam kasus ini jelas ada perlakuan berbeda atau diskriminasi yang berdasarkan gender, karena hanya foto pengurus perempuan saja yang di turunkan opacitynya hingga terlihat lebih samar bahkan ada pengrus organisasi kampus yang mengganti foto anggota perempuannya dengan "kartun ukhty".

Selain itu, komisioner komnas Perempuan, Bahrul Fuad sebagaimana dikutip dari tirto.id menilai perlakuan berbeda pada foto berempuan ini menunjukan bahwa bahwa generasi muda indonesia masih memiliki litarasi yang rendah dalam hal keagamaan. Akses terhadap informasi keagamaan memang mudah didapat, namun tidak dibarengi dengan pemahaman yang mendalam. 
foto ukhty yang lebih transparan. source: instagram SPACE UNJ

Memang benar sih yang beliau katakan, saya pribadi tidak tertarik dengan kajian ustad di instagram, namun dari postingan teman-teman saya yang "berhijrah", yang mereka bagikan hanya potongan ayat tanpa penjelasan lebih lanjut, atau hadis yang hanya disertai dengan arti tanpa penjelasan lebih lanjut juga. sepengamatan saya pada postingan mereka, mereka menglasifikasikan hukum menjadi dua, kalau gak halal (atau syari) ya haram. Padahal metode menentukan hukum itu banyak, ada ijma, qiyas, dan lain sebagainya. Dan hukum juga mengenal makruh, mubah, dan teman temanya. (Fiqih kurikulum 2013 kelas 12 MA bab 3-5, terbitan Kementrian Agama RI). Lebih baik bertanya urusan seperti ini ke ustad yang baca kitab kuning tulisan ulama besar, daripada ustad al-internet. hehe.

Kenapa sih foto pengurus perempuan dibikin lebih buram dari foto pengurus laki laki?

Mengutip dari Vice, salah satu pimpinan organisasi kampus menjelaskan bahwa hal ini dilakukan atas kesepakatan bersama.

"Kalau sepemahaman saya, itu permintaan ceweknya. Ada bagian cewek itu ada yang kayak anak-anak musala gitu. Saya juga kayak biasa aja. Biasanya bahkan enggak ada postingan kabinet, tapi ini kan kebutuhan organisasi. Cuma dia [cewek] minta. Kalau emang gitu saya diburemin aja. Mungkin dia agak enggak nyaman gitu. Orangnya juga enggak pernah punya posting mukanya dia di IG,"

Saya ragu sih dengan pernyataan ini, mengapa?, lihat saja sample foto ini.




Lihat saja foto pengurus perempuan, pose poto mereka tampak ceria dengan senyum yang manis pula, gimana ceritanya coba foto cantik seperti ini tiba tiba minta di buremin, sekedar opini saya saja, jika memang tak nyaman di upload di instagram, mungkin ketika ketemu kamera pose potonya palingan seperti foto KTP. Saya tak bisa menduga-duga lebih jauh tentang ini, karena seharusnya saya bertanya langsung ke salah satu person yang fotonya di transparankan tersebut.

Mutia, koordinator SPACE UNJ juga menyayangkan hal ini, menguktip dari vice di artikel yang sama, ia menuturkan "Terlepas dari kebenaran ‘kesepakatan bersama’ ini, kami tetap menyayangkan aja sih. Karena menurut kami, kalau mau dijadikan kartun, sekalian semuanya aja. Kalau mau di-blur juga sekalian semuanya aja. Bisa dilihat, penilaian publik juga pasti fokus terhadap perbedaan-perbedaan seperti itu karena secara gamblang perempuan seperti dimarjinalkan," 


Kesimpulan

Entah apa yang dipikirkan para pengurus organisasi ini, ketika saya mengetik di pencarian google tentang hukum memajang foto di sosmed, tak ada yang mempermasalahkan foto laki-laki, namun banyak sekali artikel yang mempermasalahkan foto perempuan. Jika memang kesepakatan bersama tersebut berasal dari dalil haram pajang foto perempuan di sosmed seperti yang di doktrin oleh ustad al-internet, mengapa juga fotonya di masih di upload dengan tingkat opacity yang rendah?. Kita semua tau di negara yang menjujung hak asasi manusia, termasuk kesetaraan gender, perlakuan berbeda pasti akan langsung mendapat tanggapan, apalagi di internet, dimana semua orang bisa mengeluarkan pendapatnya. Jadi menurut saya, saya sependapat dengan koordinator SPACE UNJ. Jika memang tak nyaman fotonya di upload, lebih baik semua pengurus baik laki-laki maupun perempuan jangan ada yang fotonya di upload. cukup saja buat gambar dengan tiga kolom yang tiap kolom berisi nama, jenis kelamin, dan jabatan di organisasi itu. Itu akan mengurangi kerjaan admin bagian grafis dan tak akan memancing keributan di internet.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

banjir dan maksiat apa hubungannya sih?